<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3246612760783942590</id><updated>2011-07-30T10:32:44.360-07:00</updated><title type='text'>sekar</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://suxiex.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3246612760783942590/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suxiex.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>suxiex</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13995089063185516235</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>3</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3246612760783942590.post-3832969241445569553</id><published>2009-12-05T11:15:00.000-08:00</published><updated>2009-12-05T11:16:34.026-08:00</updated><title type='text'>Sejarah Pura Dalem Ped</title><content type='html'>Pura Penataran Agung Ped                                                      &lt;p&gt;Semburkan Atmosfer Kekuatan Ratu Gede Nusa&lt;/p&gt;                     &lt;p&gt;&lt;br /&gt;                      http://www.balipost.co.id/balipostcetaK/2006/6/7/bd1.htm&lt;/p&gt;                     &lt;p&gt;Di sebuah desa, persisnya di Desa Ped, Sampalan, Nusa Penida,                        ada sebuah pura yang sangat terkenal di seluruh pelosok                        Bali. Pura Penataran Agung Ped nama tempat suci itu. Berada                        sekitar 50 meter sebelah selatan bibir pantai lautan Selat                        Nusa. Karena pengaruhnya yang sangat luas yakni seluruh                        pelosok Bali, Pura Penataran Agung Ped disepakati sebagai                        Pura Kahyangan Jagat. Pura ini selalu dipadati pemedek untuk                        memohon keselamatan, kesejahteraan, kerahayuan, dan ketenangan.                        Hingga saat ini, pura ini sangat terkenal sebagai salah                        satu objek wisata spiritual yang paling diminati.&lt;/p&gt;                     &lt;p&gt;Pada awalnya, informasi tentang keberadaan Pura Pentaran                        Agung Ped sangat simpang-siur. Sumber-sumber informasi tentang                        sejarah pura itu sangat minim, sehingga menimbulkan perdebatan                        yang lama. Kelompok (Puri Klungkung, Puri Gelgel dan Mangku                        Rumodja -- Mangku Lingsir) menyebutkan pura itu bernama                        Pura Pentaran Ped. Yang lainnya, khususnya para balian di                        Bali, menyebut Pura Dalem Ped.&lt;/p&gt;                     &lt;p&gt;Seorang penekun spiritual dan penulis buku asal Desa Satra,                        Klungkung, Dewa Ketut Soma dalam tulisannya tentang Selayang                        Pandang Pura Ped beranggapan bahwa kedua sebutan dari dua                        versi yang berbeda itu benar adanya. Menurutnya, yang dimaksudkan                        adalah Pura Dalem Penataran Ped. Hanya, satu pihak menonjolkan                        penatarannya. Satu pihak lainnya lebih menonjolkan dalemnya.&lt;/p&gt;                     &lt;p&gt;Selain itu, beberapa petunjuk yang menyebutkan pura itu                        pada awalnya bernama Pura Dalem. Dalam buku Sejarah Nusa                        dan Sejarah Pura Dalem Ped yang ditulis Drs. Wayan Putera                        Prata menyebutkan Pura Dalem Ped awalnya bernama Pura Dalem                        Nusa. Penggantian nama itu dilakukan tokoh Puri Klungkung                        pada zaman I Dewa Agung. Penggantian nama itu setelah Ida                        Pedanda Abiansemal bersama pepatih dan pengikutnya secara                        beriringan (mapeed) datang ke Nusa dengan maksud menyaksikan                        langsung kebenaran informasi atas keberadaan tiga tapel                        yang sakti di Pura Dalem Nusa.&lt;/p&gt;                     &lt;p&gt;Saking saktinya, tapel-tapel itu bahkan mampu menyembuhkan                        berbagai macam penyakit, baik yang diderita manusia maupun                        tumbuh-tumbuhan. Sebelumnya, Ida Pedanda Abiansemal juga                        sempat kehilangan tiga buah tapel. Ternyata, begitu menyaksikan                        tiga tapel yang ada di Pura Dalem Nusa itu adalah tiga tapel                        yang sempat menghilang dari kediamannya. Namun, Ida Pedanda                        tidak mengambil kembali tapel-tapel itu dengan catatan warga                        Nusa menjaga dengan baik dan secara terus-menerus melakukan                        upacara-upacara sebagaimana mestinya.&lt;/p&gt;                     &lt;p&gt;Kesaktian tiga tapel itu bukan saja masuk ke telinga Ida                        Pedanda, tetapi ke seluruh pelosok Bali. Termasuk, warga                        Subak Sampalan yang saat itu menghadapi serangan hama tanaman                        seperti tikus, walang sangit dan lainnya. Ketika mendengar                        kesaktian tiga tapel itu, seorang klian subak diutus untuk                        menyaksikan tapel tersebut di Pura Dalem Nusa.&lt;/p&gt;                     &lt;p&gt;Sesampainya di sana, klian subak memohon anugerah agar                        Subak Sampalan terhindar dari berbagai penyakit yang menyerang                        tanaman mereka. Permohonan itu terkabul. Tak lama berselang,                        penyakit tanaman itu pergi jauh dari Subak Sampalan. Hingga                        akhirnya warga subak bisa menikmati hasil tanaman seperti                        padi, palawija dan lainnya.&lt;/p&gt;                     &lt;p&gt;Sesuai kaulnya, warga kemudian menggelar upacara mapeed.                        Langkah itu diikuti subak-subak lain di sekitar Sampalan.                        Kabar tentang pelaksanaan upacara mapeed itu terdengar hingga                        seluruh pelosok Nusa. Sejak saat itulah I Dewa Agung Klungkung                        mengganti nama Pura Dalem Nusa dengan Pura Dalem Peed (Ped).&lt;/p&gt;                     &lt;p&gt;Meski demikian, hal itu seolah-olah terbantahkan. Karena                        seorang tokoh masyarakat Desa Ped, Wayan Sukasta, secara                        tegas menyatakan bahwa nama sebenarnya dari pura tersebut                        adalah Pura Penataran Agung Ped. Terbukti dari kepercayaan                        warga-warga sekitar saat ini. Walaupun ada yang menyebutkan                        pura itu dengan sebutan Pura Dalem, yang dimaksud bukanlah                        Pura Dalem yang merupakan bagian dari Tri Kahyangan (Puseh,                        Dalem dan Bale Agung). Melainkan Dalem untuk sebutan Raja                        yang berkuasa di Nusa Penida pada zaman itu. Dalem atau                        Raja dimaksud adalah penguasa sakti Ratu Gede Nusa atau                        Ratu Gede Mecaling, katanya.&lt;/p&gt;                     &lt;p&gt;Ada lima lokasi pura yang bersatu pada areal Pura Penataran                        Agung Ped. Pura Segara, sebagai tempat berstananya Batara                        Baruna, terletak pada bagian paling utara dekat dengan bibir                        pantai lautan Selat Nusa. Beberapa meter mengarah ke selatan                        ada Pura Taman dengan kolam mengitari pelinggih yang ada                        di dalamnya. Pura ini berfungsi sebagai tempat penyucian.&lt;/p&gt;                     &lt;p&gt;Mengarah ke baratnya lagi, ada Pura utama yakni Penataran                        Ratu Gede Mecaling sebagai simbol kesaktian penguasa Nusa                        pada zamannya. Di sebelah timurnya ada lagi pelebaan Ratu                        Mas. Terakhir di jaba tengah ada Bale Agung yang merupakan                        linggih Batara-batara pada waktu ngusaba.&lt;/p&gt;                     &lt;p&gt;Masing-masing pura dilengkapi pelinggih, bale perantenan                        dan bangunan-bangunan lain sesuai fungsi pura masing-masing.                        Selain itu, di posisi jaba ada sebuah wantilan yang sudah                        berbentuk bangunan balai banjar model daerah Badung yang                        biasa dipergunakan untuk pertunjukan kesenian.&lt;/p&gt;                     &lt;p&gt;Seluruh bangunan yang ada di Pura Penataran Agung Ped sudah                        mengalami perbaikan atau pemugaran. Kecuali benda-benda                        yang dikeramatkan. Contohnya, dua arca yakni Arca Ratu Gede                        Mecaling yang ada di Pura Ratu Gede dan Arca Ratu Mas yang                        ada di Pelebaan Ratu Mas. Kedua arca itu tidak ada yang                        berani menyentuhnya. Begitu juga bangunan-bangunan keramat                        lainnya. Kalaupun ada upaya untuk memperbaiki, hal itu dilakukan                        dengan membuat bangunan serupa di sebelah bangunan yang                        dikeramatkan tersebut.&lt;/p&gt;                     &lt;p&gt;Adanya perbaikan-perbaikan yang secara terus-menerus itu,                        membuat hampir seluruh bangunan yang ada di Pura Penataran                        Agung Ped terbentuk dengan plesteran-plesteran permanen                        dari semen dan kapur. Termasuk asagan yang lazimnya terbuat                        dari bambu yang bersifat darurat, tetapi dibuat permanen                        dengan plesteran semen. Paling tidak, hal itu telah memunculkan                        kesan kaku bagi pura yang diempon 18 desa pakraman tersebut.                        Pengemponnya mulai Desa Kutampi ke barat. Adanya sejumlah                        bangunan-bangunan pura yang dikeramatkan, berdampak pada                        lingkungan pura. Atmosfer keramat diyakini sudah tercipta                        sejak awal keberadaan pura tersebut.&lt;/p&gt;                     &lt;p&gt;* baliputra&lt;br /&gt;                      Source : HDnet&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3246612760783942590-3832969241445569553?l=suxiex.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suxiex.blogspot.com/feeds/3832969241445569553/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suxiex.blogspot.com/2009/12/sejarah-pura-dalem-ped.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3246612760783942590/posts/default/3832969241445569553'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3246612760783942590/posts/default/3832969241445569553'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suxiex.blogspot.com/2009/12/sejarah-pura-dalem-ped.html' title='Sejarah Pura Dalem Ped'/><author><name>suxiex</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13995089063185516235</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3246612760783942590.post-7504683992582115242</id><published>2009-12-05T11:02:00.000-08:00</published><updated>2009-12-05T11:03:17.707-08:00</updated><title type='text'>Sejarah Pura Samuan Tiga</title><content type='html'>&lt;i&gt;Maksudnya:&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Bila Guna Sattwam bertemu dengan Guna Rajah terang bercahayalah Citta (pikiran) itu. Itulah yang menyebabkan Atman sampai di dorga. Karena Guna Sattwam menyebabkan orang ingin berbuat baik, maka Guna Rajah-lah yang melaksanakan, sampai berhasil mencapai semua kehendak Guna Sattwa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BANYAK para ahli memperkirakan Pura Samuan Tiga tempat bertemunya para tokoh agama Hindu dan tokoh-tokoh pemerintahan saat itu. Pertemuan itu diperkirakan dipimpin oleh Mpu Rajakerta yang juga bergelar Mpu Kuturan. Pertemuan itu berlangsung dipimpin oleh Mpu Rajakerta yang juga bergelar Mpu Kuturan. Pertemuan itu berlangsung pada saat pemerintahan Raja Udayana dengan permaisurinya yang bergelar Gunapriya Dharma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak pihak yang menduga pertemuan tokoh-tokoh itu di Pura Samuan Tiga untuk menemukan berbagai sekte yang diduga bermasalah satu sama lainnya. Memang menurut penelitian Dr. R. Goris menemukan ada tidak kurang dari sembilan sekte Hindu di Bali. Sekte-sekte tersebut misalnya Sekte Siwa Sidhanta, Siwa Pasupata, Ganapati, Sora, Bhairawa, Waisnawa, Budha, Brahma, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa ahli arkeologi tidak menemukan data adanya sekte-sekte itu bermusuhan satu dengan yang lainnya. Dalam Lontar Mpu Kuturan menyatakan bahwa Mpu Kuturan mengajarkan pendirian Kahyangan Tiga di setiap desa pakraman di Bali. Kahyangan Tiga itu adalah untuk memuja Tuhan dalam tiga manifestasinya. Pura Desa untuk memuja Tuhan sebagai Dewa Brahma. Di Pura Puseh untuk memuja Dewa Wisnu dan di Pura Dalem untuk memuja Dewa Siwa. Brahma, Wisnu dan Siwa tidak lain adalah Tuhan dalam tiga fungsinya sebagai prencipta, pelindung dan pamralina ciptaan-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kitab Bhagawata Purana dinyatakan bahwa Brahma, Wisnu dan Siwa juga disebut Guna Awatara yaitu Tuhan yang dipuja dalam fungsinya untuk menuntun umat manusia mengendalikan Tri Guna. Dewa Wisnu menuntun umat manusia untuk melindungi Guna Sattwam, Dewa Brahma untuk mengendalikan Guna Rajah dan Dewa Siwa menuntun umat manusia untuk mengendalikan Guna Tamah. Manusia akan sukses hidupnya kalau Tri Guna itu terkendali sesuai dengan fungsi dan proporsinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kitab Tattwa Jnyana 10 dinyatakan bahwa kalau Guna Satwam dan Guna Rajah seimbang maka Citta atau alam pikiran akan cerah. Pikiran yang cerah itu akan berfungsi untuk mengarahkan perilaku yang Subha Karma. Perilaku yang Subha Karma itulah yang dapat mewujudkan kehidupan yang bahagia di dunia sekala ini dan menuntun Atman mencapai sorga di alam niskala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertemuan di Pura Samuan Tiga itu bukan untuk mendamaikan sekte-sekte yang bermusuhan, karena memang tidak ada sejarah yang menyatakan bahwa sekte-sekte itu bermusuhan. Pertemuan di Pura Samuan Tiga itu adalah untuk menetapkan suatu kebijaksanaan. Kerajaan untuk mendirikan Kahyangan Tiga sebagai sarana memuja Sang Hyang Tri Murti di setiap desa pakraman di Bali. Dengan pemujaan Tuhan sebagai Sang Hyang Tri Murti umat diharapkan memiliki kemampuan rohani untuk mengendalikan Tri Gunanya. Jika ini dikuasai maka rakyat mampu memiliki kekuatan rohani untuk mengendalikan Tri Gunanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengendalian Tri Guna itu diajarkan dalam kitab Tattwa Jnyana, Wrehaspati Tattwa dan susastra Hindu lainnya maka masyarakat akan dapat menunjukkan perilaku yang Subha Karma. Pemujaan Tri Murti juga bermakna untuk memohon tuntunan kepada Tuhan agar dapat melakukan Tri Kona dengan sebaik-baiknya. Tri Kona itu adalah menciptakan sesuatu yang patut diciptakan Utpati, memelihara sesuatu yang patut dipelihara Stithi dan melakukan Pralina pada sesuatu yang sepatutnya dipralina. Inilah dinamika hidup semestinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pura Samuan Tiga ini memiliki nilai sejarah yang sangat besar artinya bagi Bali. Di Pura inilah diputuskan suatu kebijaksanaan yang sangat benar dan tepat bagi penataan hidup masyarakat Bali. Hal inilah menyebabkan Pura Samuan Tiga patut selalu diingat untuk menajamkan konsep hidup yang sangat strategis dan universal yang diwariskan oleh Mpu Kuturan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Pura Samuan Tiga terdapat beberapa peninggalan purbakala. Peninggalan tersebut misalnya Arca Durgha Catur Buja yang berbeda dengan Arca Durgha yang lainnya, karena tidak menginjak Mahisa sebagai perwujudan raksasa. Ada Arca Ganesa yang ceritanya terdapat dalam Smaradhana karya Mpu Darmaja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang arca ini sudah sangat rusak keadaannya. Di samping itu ada Lingga sebagai media pemujaan Siwa dalam konsep Siwa Pasupata. Lingga ini juga simbol pemujaan Tri Murti. Bagian bawah Lingga berbentuk segi empat lambang Brahma, di atasnya segi delapan lambang pemujaan Wisnu dan bagian atas berbentuk bulat panjang lambang Siwa. Pemujaan Tuhan dengan simbol Lingga Yoni untuk memohon kesuburan bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga arca Lembu Nandini sebagai simbol wahana Dewa Siwa. Lembu juga lambang bumi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pura Samuan Tiga dibagi menjadi Tiga Mandala. Di Tiga Mandala inilah terdapat 70 pelinggih. Di mandala pertama atau jeroan pura terdapat 26 pelinggih. Pada mandala kedua terdapat 8 pelinggih dan di mandala ketiga terdapat 36 pelinggih. Pelinggih tersebut ada sebagai pelengkap dan ada sebagai pelinggih untuk Dewa Pratistha dan ada untuk Atma Partistha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di mandala pertama ada pemujaan untuk Batara di Gunung Agung, ada untuk Ratu Puseh, ada untuk pelinggih Tirtha Empul, ada untuk Ratu Sedahan Atma. Ada Pelinggih Ulun Suwi, Arca Gana, ada pelinggih Ratu Agung Sakti Batara Sagara. Yang juga sangat penting adalah ada pelinggih Pesamuan Agung. Pelinggih ini sebagai simbol Nedunang dan Ngeluwurang berbagai manifestasi Tuhan di Pura Samuan Tiga, terutama saat ada upacara pujawali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di mandala kedua dari delapan bangunan ada pelinggih Pengalah Hyang, Ratu Sedahan dan Ngelurah Agung. Di mandala ketiga terdapat beberapa pelinggih penting antara lain Batara Segara, Rambut Sedana, Bale Paselang, Taksu, Uluwatu, Sakenan Sri Sedana, Manjangan Saluwang, Pelinggih Melanting, Palinggih Manik Geni, Kentel Gumi, Batara Tirtha, dll. Banyaknya pelinggih di Pura Samuan Tiga ini sebagai simbol untuk menyatukan berbagai kelompok umat Hindu yang memiliki sistem kerohanian yang berbeda-beda namun hidup untuk saling melengkapi. Upacara Pujawali di Pura Samuan Tiga ini menggunakan perhitungan sasih yaitu setiap Purnama Sasih Kedasa. * I Ketut Gobyah&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3246612760783942590-7504683992582115242?l=suxiex.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suxiex.blogspot.com/feeds/7504683992582115242/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suxiex.blogspot.com/2009/12/sejarah-pura-samuan-tiga.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3246612760783942590/posts/default/7504683992582115242'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3246612760783942590/posts/default/7504683992582115242'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suxiex.blogspot.com/2009/12/sejarah-pura-samuan-tiga.html' title='Sejarah Pura Samuan Tiga'/><author><name>suxiex</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13995089063185516235</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3246612760783942590.post-382019984236332235</id><published>2009-12-04T04:15:00.000-08:00</published><updated>2009-12-05T08:30:26.093-08:00</updated><title type='text'>GELAP ITU TERANG</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_qukCF_L0fCo/SxqKRW1NLCI/AAAAAAAAABA/QvWCSyRQAKA/s1600-h/reiki.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 676px; height: 237px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_qukCF_L0fCo/SxqKRW1NLCI/AAAAAAAAABA/QvWCSyRQAKA/s320/reiki.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5411789933030222882" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_qukCF_L0fCo/Sxj9jZz2p7I/AAAAAAAAAAg/E41rJ3MgOSU/s1600-h/3228646010_f65e643cb5.jpg"&gt;Astungkara HYANG WIDHI,syukur atas anugrah bliau tercipta alam,dan dunia semesta..takan pernah berubah,walo oleh ketakutan sebesar apapun.TUHAN dalam gelap apapun ENGKAU slalu menerangi harap,jalan,dan tujuan hidup smwa umatmu....Syukur dan doa slalu berirama disela-sela kehidupan yang berwarna..hanya gelap yang terlihat,tp sadarlah smwa itu hanya terasa oleh hasrat mereka-meraka yang berirama dengan ketakutan,kecemasan,kegundahan dan kegalauan,,,,.Gelap bkanlah kegelapan,tapi gelap adalah awal menuju titik harapan,,ketenengan,kesucian,rasa dan sinar terang.....&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Setitik keterangan akan menjadi setumpuk harapan kebahagiaan hidup kita.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3246612760783942590-382019984236332235?l=suxiex.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suxiex.blogspot.com/feeds/382019984236332235/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suxiex.blogspot.com/2009/12/gelap-itu-terang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3246612760783942590/posts/default/382019984236332235'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3246612760783942590/posts/default/382019984236332235'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suxiex.blogspot.com/2009/12/gelap-itu-terang.html' title='GELAP ITU TERANG'/><author><name>suxiex</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13995089063185516235</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_qukCF_L0fCo/SxqKRW1NLCI/AAAAAAAAABA/QvWCSyRQAKA/s72-c/reiki.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
